Like

Adv

promo usahablog

Sabtu, 05 Oktober 2013

SIFAT SIFAT TUHAN



A.    Perbandingan antar aliran tentang sifat-sifat tuhan
Persoalan yang menjadi bahan perdebatan di antara aliran-aliran kalam adalah masalah sifat-sifat Tuhan. Persoalan antara aliran kalam tentang sifat-sifat Allah tidak hanya terbatas pada persoalan tentang bagaimana Allah itu memiliki sifat atau tidak, akan tetapi juga membahas tentang persoalan-persoalan cabang sifat-sifat Allah, seperti antropomorphisme (yang dimana antropomorphisme ini merupakan pengenaan ciri-ciri manusia pada binatang, tumbuhan dan benda mati), melihat Tuhan beserta esensi al-Qur’an. Sedangkan sifat-sifat Tuhan menurut aliran-aliran dalam ilmu kalam adalah :
1.      Aliran Mu’tazilah
Pertentangan antara kaum mu’tazilah dengan kaum asy’ariyah berkisar sekitar persoalan tentang apakah Tuhan itu mempunyai sifat atau tidak. Jika Tuhan itu mempunyai sifat, maka sifat itu mustilah kekal seperti halnya Dzat Tuhan. Jika sifat-sifat itu kekal, yang bersifat kekal bukan hanya satu sifat akan tetapi banyak. Pikirnya dalam aliran ini bahwa kekalnya sifat-sifat membawa pada faham banyak yang kekal (ta’addud al-qudama atau multiplicity of eternals). Aliran ini juga membawa kepada faham syirk atau politheisme. Itu merupakan hal yang tidak dapat diterima dalam teologi. Sedangkan Washil bin Atha menegaskan bahwa siapa saja yang menetapkan adanya sifat qadim bagi Allah, itu berarti dia telah menetapkan adanya dua Tuhan.
Sedangkan kaum mu’tazilah mencoba menyelesaikan persoalan itu dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Argument mereka tentang Tuhan, sebagaimana telah dijelaskan oleh Asy’ari yang bersifat negatif. Tuhan tidak mempunyai pengetahuan, kekuasaan, hajat dan sebagainya. Itu tidak berarti bahwa Tuhan bagi mereka tidak mengetahui, tidak berkuasa dan tidak hidup. Tuhan bagi mereka tetap mengetahui, berkuasa dan sebagainya akan tetapi bukan dengan sifat dalam arti kata sebenarnya. Yang artinya Tuhan itu mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan itu adalah Tuhan sendiri. Pengetahuan tentang Tuhan ini dijelaskan Abu Al-Huzail yang mengatakan bahwa Tuhan sendiri yaitu dzat atau esensi Tuhan.


Artinya : ”Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan pengetahuan, Maha Kuasa dengan Kekuasaan, Maha hidup dengan kehidupan dan pengetahuan, kekuasaan, dan kehidupan-Nya itu adalah dzat-Nya sendiri.
Arti Tuhan mengetahui dengan esensi-Nya kata Al-Juba’I adalah bahwa untuk mengetahui sesuatu, Tuhan tidak berhajat pada suatu sifat dalam bentuk pengetahuan atau keadaan mengetahui. Sedangkan Abu Hasyim berpendapat bahwa Tuhan mengetahui melalui esensinya adalah bahwa Tuhan itu mempunyai keadaan mengetahui.
Penjelasan tentang pandangan mu’tazilah tentang sifat-sifat Allah dikemukakan tokok-tokoh mu’tazilah yaitu An-Nazhzham dan Abu Hudzail. An-Nazhzham menafsirkan pengetahuan, kekuasaan, pendengaran, penglihatan, dan sifat-sifat dzat Allah yang lain. Allah dalam pendapatnya senantiasa tahu, hidup, kuasa, mendengar, melihat, dan qadim dengan diri-Nya sendiri, bukan dengan pengetahuan, kekuasaan, prikehidupan, pendengaran, penglihatan, dan keqadiman. An-Nazhzham mengatakan bahwa jika ditetapkan bahwa Allah itu adalah dzat yang tahu, berkuasa, hidup, mendengar, melihat, dan qadim yang diterapkan sebenarnya adalah dzat-Nya (bukan sifat-Nya). Sedangkan menurut Abu Hudzail berpendapat bahwa esensi pengetahuan Allah adalah Allah sendiri. Demikian pula kekuasaan, pendengaran penglihatan dan kebijaksanaan dan sifat-Nya yang lain.
Aliran mu’tazilah memberikan daya yang besar kepada akal berpendapat bahwa Tuhan tidak dapat dikatakan mempunyai sifat-sifat jasmani. Jika Tuhan dikatakan mempunyai jasmani, seperti yang diucapkan oleh Al-Jabbar tentulah Tuhan mempunyai ukuran panjang, lebar dan dalam, atau Tuhan diciptakan sebagai kemestian dari sesuatu yang bersifat jasmani. Oleh sebab itu, Mu’tazilah menafsirkan ayat-ayat yang memberikan kesan bahwa Tuhan bersifat jasmani secara metaforis. Dengan kata lain ayat-ayat al-Qur’an yang menggambarkan bahwa Tuhan bersifat jasmani diberi ta’wil oleh Mu’tazilah dengan pengertian yang layak bagi kebesaran dan keagungan Allah.
Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan, karena bersifat immateri, tidak dapat dilihat dengan mata kepala. Karena Tuhan tidak mengambil tempat sehingga tidak dapat dilihat dan bila Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala, itu berarti Tuhan dapat dilihat sekarang di dunia ini, sedangkan pada kenyataannya tidak seorang pun yang dapat melihat Tuhan di alam ini. Mengenai hakikat al-Qur’an aliran Mu’tazilah berpendapat bahwa al-Qur’an adalah makhluk sehingga tidak kekal. Mereka berpendapat bahwa al-Qur’an itu sendiri tersusun dari kata-kata dan kata-kata itu sendiri tersusun dari huruf-huruf.
2.      Aliran Asy’ Ariyah
Pendapat kaum Asy’ariyah sangat berlawanan dengan faham Mu’tazilah. Asy’ariyah mereka mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat. Menurut Al-Asy’ari tidak dapat diingkari bahwa Tuhan mempunyai sifat karena perbuatan-perbuatannya. Aliran ini juga mengatakan bahwa Tuhan mengetahui, menghendaki, berkuasa, dan sebagainya di samping mempunyai pengetahuan, kemauan, dan daya. Ia lebih jauh berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat (bertentangan dengan Mu’tazilah) dan bahwa sifat-sifat itu, seperti mempunyai tangan dan kaki, tidak boleh diartikan secara harfiah melainkan secara simbolis (berbeda dengan pendapat kelompok sifatiyah). Kemudian Al-Asy’ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik karenanya tidak dapat  dibandingkan dengan sifat-sifat manusia. Sifat-sifat Allah berbeda dengan Allah sendiri, tetapi sejauh menyangkut realitasnya (haqiqah) tidak terpisah dari esensi-Nya.
Sementara itu, Al-Baghdadi melihat adanya konsensus di kalangan kaum Asy’ariah bahwa daya, pengetahuan, hayat, kemauan, pendengaran, pengelihatan, dan sabda tuhan adalah kekal. Sifat-sifat ini, kata Al-Ghazali, tidaklah sama dengan esensi tuhan, malah ini lain dari esensi tuhan, tetapi  berujud dalam esensi itu sendiri. Aliran-aliran ini juga membawa faham banyak yang kekal. Untuk mengatasinya kaum Asy’ariah mengatakan bahwa Sifat-sifat itu bukanlah tuhan, tetapi  tidak pula lain dari tuhan. Karena adanya sifat-sifat tidak membawa kepada faham banyak kekal.
Kelihatan faham kekuasaan dan kehendak mutlak tuhanlah yang mendorong kaum Asy’ariyah memilih penyelesaian Aliran Asy’ariyah. Sifat mengandung arti tetap dan kekal.,sedangkan “keadaan” mengandung arti berubah. Sifat mengandung arti kuat, sedangkan keadaan mengandung arti lemah. Oleh karena itu , perkatan bahwa tuhan tidak mempunyai sifat tetapi hanya mempunyai keadaan, tidaklah segaris dengan konsep kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan. Untuk mempertahankan kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan, tuhan mesti mempunyaimsifat-sifat yang kekal.
Asy’ariah sebagai aliran kalam trdisional yang membrikan daya yang kecil kepada akal juga menolak faham tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani bila sifat jasmani dipandang sama dengan sifat manusia. Namun, ayat-ayat Al-Quran kendatipum menggambarkan tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani, tidak boleh ditakwilkan dan harus diterima sebagaimana makna harfinya. Oleh sebab itu, tuhan dalam pandangan Asy’ariyah mempunyai mata, wajah, tangan serta bersemayam di singgasana. Namun, semua itu dikatakan la yukayyaf wa la yuhadd (tanpa diketahui bagaimana cara dan batasnya).
Bertentangan dengan pendaat Mu’tazilah ,aliran asy’ariyah mengatakan bahwa tuhan dapat melihat di akhiratkelak dengan mata kepala. Asy’ari menjelaskan bahwa sesuatu yang dapat dilihat adalah sesuatu yang yang mempunyai wujud. Karena tuhan mempunyai wujud, ia dapat dilihat. Lebih jauh dikatakan bahwa tuhan melihat apa yang ada. Dengan demikian dia melihat diri-Nya juga.  
Aliran Asy’ariyah berpendapat bahwa al-Qur’an itu adalah kekal tidak diciptakan. Asy’ari berpegang teguh pada pernyataan bahwa al-Qur’an itu bukan makhluk sebab segala sesuatu tercipta, setelah Allah berfirman Kun (jadilah), maka segala sesuatu pun terjadi. Penjelasan tersebut mengisyaratkan bahwa al-Qur’an dalam faham mereka bukanlah yang tersusun dari huruf dan suara akan tetapi yang terdapat di balik yang tersusun dari suara itu.
3.      Aliran Maturidiyah
Berkaitan dengan masalah sifat Tuhan, dapat ditemukan persamaan pemikiran antara Al-Maturidi dan Al-Asy’ari, seperti dalam pendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat seperti sama, bashar, dan sebagainya. pengertian Al-Maturidiyah tentang sifat Tuhan berbeda dengan Al-Asy’ari, Al-Asy’ari mengartikan sifat Tuhan sebagai sesuatu yang bukan dzat, melainkan melekat pada dzat itu sendiri, sedangkan menurut Al-Maturidi sifat tidak dikatakan sebagai esensi-Nya dan bukan pula dari esensi-Nya. Menetapkan sifat bagi Allah tidak harus membawa kepada pengertian anthropomorphisme, karena sifat tidak berwujud yang tersendiri dari dzat, sehingga berbilang sifat tidak akan membawa pada berbilangnya yang qadim (taaddud al-qudama).
Maturidiyah Bukhara yang juga mempertahankan kekuasaan mutlak Tuhan, berpendapat bahwa mempunyai sifat-sifat. Persoalan banyak yang kekal mereka selesaikan dengan mengatakan behwa sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui kekekalan sifat-sifat itu sendiri, juga dengan mengatakan bahwa Tuhan bersam-sama sifat-Nya adalah kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal.
Aliran Maturidiyah Bukhara berbeda dengan Asy’ariyah juga berpendapat Tuhan tidaklah mempunyai sifat-sifat jasmani.ayat-ayat al-Qur’an yang menggambarkan Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani haruslah diberi takwil.
Golongan Samarkand dalam hal ini kelihatannya tidak sefaham dengan Mu’tazilah karena Al-Maturidi mengatakan bahwa sifat bukanlah Tuhan, tetapi tidak lain dari Tuhan.  Maturidiyah Samarkand sependapat dengan Mu’tazilah dalam menghadapi ayat-ayat yang memberi gambaran Tuhan bersifat dengan menghadapi jasmani. Almaturidi mengatakan bahwa yang dimaksuud dengan tangan, mata , muka  dan kaki adalah kekuasaan Tuhan.
Maturidiyah Samarkand sejalan dengan Asy’ariyah dalam hal Tuhan dapat dilihat. Sebagaimana yang dijelaskan Al-Maturidi bahwa melihat Tuhan itu merupakan hal yang pasti dan benar, tetapi tidak dapat dijelaskan bagaimana cara melihatya. Demikian pula Maturidiyah Bukhara juga berpendapat dengan Asy’ariyah dan Maturidi Samarkand bahwa Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala. Al-Bazdawi mengatakan bahwa Tuhan kelak memperlihatkan diri-Nya untuk kita lihat dengan mata kepala, menurut apa yang ia kehendaki.
Aliran Maturidiyah Bukhara dan Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwa al-Qur’an itu adalah kekal tidak diciptakan. Maturidiyah Bukhara berpendapat sebagaimana dijelaskan oleh Bazdawi, kalamullah (al-Qur’an) adalah sesuatu yang berdiri dengan dzatnya, sedangkan yang tersusun dalam bentuk surat yang mempunyai akhir dan awal, jumlah dan bagian, bukanlah kalamullah secara hakikat akan tetapi disebut al-Qur’an dalam pengertian kiasan (majaz).
Maturidiyah Samarkand mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah yang bersifat kekal dari Tuhan, sifat yang berhubungan dengan dzat Tuhan dan juga qadim. Kalamullah tidak tersusun dari huruf dan kalimat sebab huruf dan kalimat itu diciptakan.




Cloap Program Affiliasi                    Salju Shop - Kupon Diskon Ekslusif 



               

yours comment here

adv



From: http://www.nusaresearch.net/public/recommend/recommend

follow me in