Like

Adv

promo usahablog

Rabu, 12 Juni 2013

SEJARAH SINGKAT ISLAM WETU TELU DI DESA BAYAN K.L.U




   Pada zaman dahulu bayan dipimpin oleh seorang Raja atau disebut Datu Bayan yang bergelar susuhunan Ratu Emas Bayan Agung . Silsilah menyebutkan bahwa Raja Bayan bersaudara dengan 18 dari hasil perkawinannya dengan beberapa istri dan selir . Saudara – saudara Raja Bayan kemudian menyebar dan beranak pinak ke seluruh pulau lombok . Sejarah mencatat dari hasil perkawinan Raja Bayan dengan istri pertamanya mempunya dua orang putra yang bergelar Pangeran Mas Mutering Jagad dan Pengeran Mas Mutering  Langit kedua pangeran inilah yang kemudian meneruskan memerintah dan berkuasa di daerah Bayan. Datu Pangeran Mas Mutering Langit sebagai yang tertua berkedudukan dibayan timur deberikan mandat untuk menjalankan pelaksanaan adat Gama .Sementara Datu Pangeran Mas Putering Jagad berkedudukan di Bayan Barat diberikan tugas untuk menjalankan pelaksanaan luir Gama .  Kedua Pangeran Datu Mas tersebut menjalankan tugas-tugasnya dalam bidang sosial kemasyarakatan dan dalam menjaga alam lingkungan dibantu oleh Titi Emas Rempung berasal dari loloan ,Titi mas Puncan Surya yang berasal dari Karang Bajo dan Titi Mas Pakel Yang berasal dari Karang Salah .Sedangkan dalam menjalankan bidang keagamaan dibantu oleh Titi Mas pengulu dan Bebe Antasalam .
Wetu Telu dalam bahasa indonesia bisa diartikan waktu tiga dimana wetu telu ini, bisa dikatakan praktik unik karena sebagian masyarakat suku sasak yang mendiami pulau lombok dalam menjalankan Agama Islam . Ditengarai bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar islam pada masa lampau yang berusaha mengenalkan islam ke masyarakat sasak pada waktu itu secara bertahap , sehingga para mubalik meninggalkan pulau lombok sebelum mengajarkan ajaran islam dengan secara lengkap dan sempurna . Saat ini penganut sudah sangat berkurang dan hanya terbatas pada generasi – generasi tua di daerah tertentu , sebagai akibat gencarnya para pendakwah Islam dalam usahanya meluruskan raktik tersebut .        Dalam sebuah cerita yang telah disampaikan oleh para pengarang sejarah wetu telu di pulau lombok bahwa praktik tersebut bertahan karena para Wali yang menyebarkan Agama Islam pertama kali tersebut tidak sempat menyelesaikan ajarannya . Sehingga masyarakat pada waktu itu terjebak pada masa peralihan , para muridnya yang ditinggalkan tidak memiliki keberanian untuk mengubah praktik pada masa peralihan tersebut ke arah praktik Islam yang lengkap . Hal itulah salah satu penyebab masih dapat ditemukan penganut Wetu Telu pada masa sekarang atau zaman modern . Agama adalah pemberian dari tuhan sedangkan adat adalah peninggalan dari orang tua atau nenek moyang yang keduanya harus dijaga dan diseimbangkan. Memang sebagian kalangan masih menilai pelaksanaan ajaran Wetu Telu kental dan identik dengan pelaksanaan ibadah sholat yang dilakukan 3 waktu dan puasa yang dikerjkan hanya pada awal, tengah dan akhir bulan saja, namun yang pasti agama dan adat yang sudah tentu memiliki kaitan erat dalam semua sendi kehidupan manusia memang tidak dapat dipisahkan, terlebih dalam komunitas adat Bayan yang selama ini tidak pernah ada larangan pada semua generasi dan penerus untuk menuntut ilmu dan menyempurnakannya, asalkan adat - istiadat tidak dikesampingkan agar tetap berimbang dan seimbang .
 Adapun pendapat lain yang menyatakan bahwa Wetu Telu Bukan Agama akan tetapi merupakan prodak manusia yang mana semua ini masih banyak dipengaruhi oleh kepercayaan animisme,dinamisme , dan hindu. Kepercayaan dan pendapat yang telah menyebarluaskan pada sebagian besar dikalangan luar meyakini bahwa Wetu Telu itu adalah ajaran agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat atau komunitas adat Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.Pandangan masyarakat luas yang berkembang seperti ini sangat disesalkan oleh semua tokoh adat, tokoh agama dan masyarakat atau komunitas adat Bayan pada khususnya, terlebih secara tertulis telah dipublikasikan melalui sebuah buku yang berjudul Satu Agama Banyak Tuhan, karya Kamarudin Zaelani yang diterbitkan oleh percetakan Pantheon Media Pressindo bulan Maret 2007 lalu, isi yang tertuang yang ada dalam buku tersebut dinilai sangat mendiskriditimasi komunitas adat Bayan karena sumber yang ditemui masih sepihak dan belum memahami apa sebenarnya Wetu Telu tersebut.Keluhan tersebut langsung dilontarkan beberapa Tokoh adat, Tokoh Agama, tokoh Masyarakat komunitas adat Bayan Kecamatan Bayan, KLU, seperti, Raden Gedarip (64), Raden Jambe, Haji Amir (63) dan Kardi Am.a.“Haji Amir”Tokoh adat sekali gus tokoh Agama yang juga mantan Kepala Desa Loloan, Bayan, KLU priode tahun 1968-1998, menuturkan, “ Wetu Telu itu adalah filosofi yang diyakini komunitas adat Bayan yang memiliki arti, makna serta penjabaran yang sangat luas dan mendalam tentang kehidupan manusia, Tuhan dan lingkungannya, yang kesemuanya itu tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya, dimana folosofi ini juga kental dan erat kaitannya dengan ajaran Agama Islam.“Wetu Telu juga menggambarkan filosofi tentang “ Wet Tau Telu (tiga bagian wilayah atau sistim Pemerintahan) diantaranya, Adat, Agama dan Pemerintah, ketiga unsur ini jika dilihat berdasarkan fungsinya tidak mungkin dapat terpisahkan dimana tugas dan fungsinya juga tidak mungkin dapat disatukan atau disamakan satu dengan yang lainnya . Filosofi lain juga meyakini Wetu dan Metu itu yakin adanya Tuhan, NaAbi Muhammad Saw, Ibu, Bapak, dan Anak serta menyakini adanya Nabi Adam sebagai manusia pertama yang dilahirkan dan diturunkan kebumi. Kemudian isi bumi atau alam diyakini dilahirkan melalui tiga cara atau tiga unsur, (Metu) yaitu, Tiwoq (tumbuh), Menteloq (bertelur) dan terakhir melalui proses Beranak.
Dalam masyarakat lombok yang awam menyebut kepercayaan ini dengan sebutan “Waktu Telu”sebagai akulturasi ajaran islam dan sisa kepercayaan yang lama yakni Animisme , Dinamisme , dan kepercayaan hindu . Selain itu karena menganut kepercyaan ini tidak menjalankan pribadatan seperti agama Islam pada umumnya ( dikenal dengan sebutan “Waktu Lima “ karena menjalankan kewajiban sholat lima waktu ) . Yang wajib menjalankan ibadah- ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kiyai atau  pemangku adat        ( sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang ) . Kegiatan apapun yang berhubungan dengan daur hidup ( kematian , kelahiran , penyemblihan hewan , selamatan dan sebagai b Cerikut ) harus diketahui oleh kiyai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari upacara – upacara tersebut sebagai ucapan terimakasih dari tuan rumah .Terjadinya perbedaan antara kepercayaan wetu telu dan kepercayaan waktu lima lantaraan karena ajaran wetu telu masih dipengaruhi kuat oleh kepercayaan animisme ,dinamisme , dan budhisme ,rata –rata pun yang menganut ajaran ini adalah orang yang sudah tua / sesepuh, dan juga karena kurangnya waktu oleh para mubalig untuk menyampaikan syi’ar islam sehingga ajarannya belum dipahami secara menyeluruh , serta dapat dimungkinkan pula kalau ada beberapa masyarakat lokal yang melakukan penolakan terhadap sistem islam yang lebih komplek dibandingkan ajaran mereka sebelumnya, akan tetapi pada dasarnya , Islam dapat berkembang dengan baik di lomnbok tanpa ada komplik dan kekerasan . Dan ini menandakan bahwa Islam mampu berakulturasi karena dengan mudahnya terhadap adat budaya masyarakat lokal yang masih dipengaruhi oleh adat leluhur . Adapun faktor – faktor yang dapat menyebabkan Islam di terima dengan baik atau yang bersifat akulturasi oleh masyarakat Lombok ,antara lain ajaran  islam mudah diterima oleh masyarakat lokal sehingga islam berkembang tanpa ada suatu konflik ,respon yang baik yang deterima oleh para mubalig dari islam atau masyarakat yang menjadikan syi’ar yang di lakukan oleh Tuan Guru melalui media pendidikan berjalan tanpa hambatan sehingga menambah luas masyarakat yang menganutnya ,dan pada abad xx didirikan basisi sosial islam yang semakin mengukuh kedudukan islam di tengah masyarakat lombok . Sedangkan Kyai Kagungan yang melipuiti 4 unsur (Penghulu, Lebe, Ketib, dan Mudim) pada dasarnya memiliki tugas pokok yang sama, yaitu sebagai imam, sedangkan tugas lainnya juga masih memilki tahapan dan bagian sesuai dengan wilyah adat yang dimilki, hanya saja Penghulu dapat berperan disemua wilayah adat, sedangkan Kyai Santri yang berjumlah 40 orang hanya bertugas sebagai makmum atau disebut juga sebagai pembantu yang bertugas mengurus semua ritual adat atas perintah dan mandat dari Kyai Kagungan. Yang boleh berperan sebagai Kyai Kagungan dan Kyai Santri ini harus berdasarkan keturunan.Terkiat makna Watu Telu memang tidak terlepas dari filosofi masyarakat adat Bayan yang selalu berpegang teguh pada tiga unsur atau keyakinan, yakni hubungan Tuhan dengan Manusia yang melibatkan para Kyai, Hubungan Manusia dengan Manusia yang melibatkan Pranata- pranata dan sesepuh adat, dan yang terakhir adalah Hubungan Manusia dengan Lingkungan yang diperankan oleh para Toaq Lokaq (para orang tua). Ketiga unsur ini memerlukan dan harus diseimbangkan, karena bagaimana pun juga kalau salah satunya tidak nyambung atau seimbang maka tidak mungkin dapat berjalan dengan baik.Saat ini keberadaan komunitas adat beserta hak-hak yang dimilkinya juga semakin kuat dengan UUD 45 yang sudah diamandemenkan dan terutang dalam pasal 18  bahwa Negara mengakui hak ulayat dan ritual masyarakat adat . Jadi posisi dan keberadaan komunitas adat dan kearifan lokal yang dimilkinya juga semakin kuat untuk mendapat perlindungan dan harus tetap dilestarikan.
Adapan contoh  perubahan yang bersifat akulturasi atau yang bersifat diterima baik oleh masyarakat yang mempercayai kepercayaan animisme,dinamisme khususnya di pulau lombok tanpa ada pemaksaan  adalah dapat digambarkan lain yang sering diucapakan dalam kehidupan sehari-hari adalah Inaq, Amaq, Allah (Ibu, Bapak dan Tuhan) juga sebagai ungkapan kalau sorga itu berada dibawah telapak kaki ibu, filosofi ini juga masuk dan erat kaitannya dengan ajaran Agama Islama dimana semua ummat Islam  harus tunduk dan patuh terhadap ajaran agama  tersebut dan inilah alasan masyarakat lombok yang mempercayai animisme dan dinamisme menerima baik ajaran yang dibawa oleh para wali yang berasal dari jawa yakni ajaran agama islam . Keyakinan lain juga tergambar dari tiga aspek kehidupan yaitu Air, Angin dan Tanah, ketiga unsur ini juga menjadi dasar utama semua mahlauk hidup yang ada dimuka bumi dapat tumbuh, hidup serta berkembang biak, apa bila ketiga elemen ini tetapada dan dapat dilestarikan.Ketiga unsur lain tentang makna serta filosofi Wetu Telu yaitu Adanya tiga unsur yang mengayomi dan menuntun serta membina manusia atau masyarakat, yaitu dari Kyai yang berdasarkan keturunan dan memiliki tugas khusus dibidang agama,Tokoh Adat yang mengatur soal adat dan istiadat, dan yang terakir adalah pemerintah yang juga khusus membidangi sistim pemerintahan. Sedangkan contoh perubahan yang bersifat singkretik adalah bisa kita lihat pada saat masyarakat Islam wetu telu mengadakan Syukuran dalam bentuk zikiran bersama atau zikiran bagi orang sudah meninggal dunia . Dalam melaksanakan zikiran masyarakat wetu telu selalu menyalakan Dupe dalam bahasa sasaknya ( Menyam) seperti apa yang dilakukan oleh orang orang yang memiliki kepercayaan animisme,dinamisme,dan hindu ,pada saat melakukan sembahyang didepan patung yang mereka buat sendiri . Pada kita tahu bahwa menyalakan dupe dalam ajran islam sangat tidak bolehkan oleh agama islam karena kita seolah- olah mendo’akan orang yang meninggal itu masuk neraka dan ini masih d\ipraktikan oleh masyarakat wetu telu sampai sekarang . Dan contoh inilah yang bisa disebut dengan perubahan yang bersifat singkretik ,karena ada unsur pemaksaan dan dalam ajaran agama islam tidak diperbolehkan menggunakan Dupe .



yours comment here

adv



From: http://www.nusaresearch.net/public/recommend/recommend

follow me in